BELAJAR
FILSAFAT 3
Oleh :
Samsul Arifin/18701261007
PEMIKIRAN
PARA FILSUF
TENTANG ILMU
PENGETAHUAN *)
Sejarah
perkembangan filsafat berkembang atas dasar pemikiran kefilsafatan oleh para
filsuf yang telah dibangun sejak abad
ke-6 SM. Pemikiran para filsuf muncul
dan berkembang sesuai pada jaman masing-masing. Pemikiran para filsuf tidaklah
semua sejalan, namun penuh dengan pertentangan-pertentangan dan saling
mempertahankan pemikirannya sehinga memunculkan aliran-aliran dengan
penganut-penganutnya. Secara periodisasi perkembangan filsafat (filsafat
barat), pembagiannya dimulai dari zaman kuno, zaman abad pertengahan, zaman
modern, dan masa kini. Sedang aliran yang muncul dan berpengaruh terhadap
pemikiran filsafat adalah Positivisme, Marxisme, Eksistensialisme,
Fenomenologi, Pragmatisme, dan NeoKantianianisme dan Neo-tomisme. Hali ini menyadarkan
kita semua bahwa perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidaklah
berlangsung secara mendadak, melainkan terjadi secara bertahap, evolutif.
Karena untuk memahami sejarah perkembangan ilmu mau tidak mau harus melakukan
pembagian atau klasifikasi secara periodik, karena setiap periode menampilkan
ciri khas tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan pemikiran
secara teoretis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani. Periodisasi
perkembangan ilmu dimulai dari peradaban Yunani dan diakhiri pada zaman
kontemporer.
Pada awalnya orang (di Yunani) memandang
terhadap sesuatu berdasarkan pada pendekatan-pendekatan mythos. Seiring dengan
perkembangan filsafat, maka pada abad 6 orang sudah mulai mencari jawaban
rasional yang diajukan oleh alam semesta dengan akal budi dan rasio yang mengantikan
mythos. Bangsa Yunani juga tidak lagi dapat menerima
pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima begitu
saja), melainkan menumbuhkan sikap an inquiring attitude (suatu sikap yang
senang menyelidiki sesuatu secara kritis). Sikap belakangan inilah yang menjadi
cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern dan memunculkan filsuf
pemikir-pemikir dunia yang terkenal sepanjang masa seprti Thales, Phytagoras,
Socrates, Plato, hingga Aristoteles.
Perkembangan
ilmu pengetahuan penuh dengan pertentangan sesuai pada jaman masing-masing dan
memunculkan 2 kelompok besar dengan para filsuf yang terkenal pada jamannya. Kelompok
pertama dimulai dari Plato yang merupakan murid Socrates mengatakan bahwa
realitas dan dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita dan terkenal dengan
aliran rasionisme. Pendapat tersebut ditentang oleh Aristoteles yang merupakan
pemikir dari kelompok kedua yang mengkritik dengan mengatakan bahwa yang ada itu adalah
manusia-manusia yang konkret. “Ide manusia” tidak terdapat dalam kenyataan
sehingga muncul aliran realisme, dan sumbangannya kepada perkembangan ilmu
pengetahuan besar sekali. Contoh dari pemikiran kedua filsuf tersebut bagi
manusia untuk dapat menyikapi dan memahami adalah bahwa menurut aliran rasioisme
A sama dengan A atau 2 + 2 = 4, namun menurut aliran realisme tidak demikian A
tidaklah sama dengan A atau 2 + 2 ≠ 4.
Matematika benar kalau masih ada dalam pemikiran dan akan salah kalau sudah di
alam nyata.
Kembali lagi pada pemikiran para filsuf bahwa
kedua kelompok besar para pemikir terus mengalami perkembangan dengan penganut
dan pewarisnya masing-masing. Penerus kelompok rasio, memunculkan juga aliran
formalism yang memandang bahwa untuk mengerti sesuatu harus logis dan
mengunakan rasio. Sesuatu bersifat konsisten, berupa konsep, analitik, bersifat
koheren untuk mencapai kebenarannya. Pada kelompok ini salah satu pemikir besar
yang muncul salah satunya adalah R. Decrates. Sedangkan kelompok lainnya
mengatakan bahwa untuk mengerti sesuatu dasarnya adalah empiris, pengalaman dan contoh sehingga muncul aliran
intuisme. Untuk mencapai kebenaran adalah dengan memakai korespondensi apakah
sesuatu itu cocok atau tidak dg pengalaman seseorang, mengerti setelah
dikerjakan. Fisuf yang terkenal pada kelompok ini salah satunya adalah David
Hume dengan aliran empirisme.
Pendidikan dari pemikiran Plato, yang perlu
dikembangkan adalah pada objek rasio saja. Hal ini merupakan unsur penting
untuk mendapatkan ilmu. Sedangkan David Hume berpikiran bahwa empiris adalah
cara untuk mendapatkan ilmu. Keduanya merupakan unsur penting untuk memdapatkan
ilmu, namun tidak lengkap menjadi ilmu kalau mengarah satu aliran saja. Pada
pendidikan di negara tercinta ini, sungguh akan membahayakan dan mengacaukan bila
pendidikan hanya bersifat saintifik saja yang hanya mementingkan rasio sebagai
objeknya dan formalitas atau hanya yang mengedepankan empiris saja sebagai
obyeknya. Pendidikan pada dasarnya mengembangkan
potensi-potensi manusiawi baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun
karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan
hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal serta
bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan,
organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Pendidikan
haruslah dikelolah oleh orang-orang yang paham tentang pendidikan dan bagaimana
antara teoritis dan kenyataan yang ada. Dengan demikian pendidikan sebagai cara
untuk mendapatkan ilmu harus perpaduan kombinasi perkawinan dari kedua kelompok
aliran tersebut. Sebenar-benarnya ilmu diambil dari keduanya yaitu mengambil
sitentiknya dan apriorinya.
Bersambung…..
*) Hasil dari
Refleksi Matakuliah Filsafat Pendidikan 23-10-2018






0 komentar:
Posting Komentar