Minggu, 04 November 2018

Belajar Filsafat 3


BELAJAR FILSAFAT 3
Oleh : Samsul Arifin/18701261007

PEMIKIRAN PARA FILSUF
TENTANG ILMU PENGETAHUAN *)


Sejarah perkembangan filsafat berkembang atas dasar pemikiran kefilsafatan oleh para filsuf  yang telah dibangun sejak abad ke-6 SM.  Pemikiran para filsuf muncul dan berkembang sesuai pada jaman masing-masing. Pemikiran para filsuf tidaklah semua sejalan, namun penuh dengan pertentangan-pertentangan dan saling mempertahankan pemikirannya sehinga memunculkan aliran-aliran dengan penganut-penganutnya. Secara periodisasi perkembangan filsafat (filsafat barat), pembagiannya dimulai dari zaman kuno, zaman abad pertengahan, zaman modern, dan masa kini. Sedang aliran yang muncul dan berpengaruh terhadap pemikiran filsafat adalah Positivisme, Marxisme, Eksistensialisme, Fenomenologi, Pragmatisme, dan Neo­Kantianianisme dan Neo-tomisme. Hali ini menyadarkan kita semua bahwa perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidaklah berlangsung secara mendadak, melainkan terjadi secara bertahap, evolutif. Karena untuk memahami sejarah perkembangan ilmu mau tidak mau harus melakukan pembagian atau klasifikasi secara periodik, karena setiap periode menampilkan ciri khas tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan pemikiran secara teoretis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani. Periodisasi perkembangan ilmu dimulai dari peradaban Yunani dan diakhiri pada zaman kontemporer.
Pada awalnya orang (di Yunani) memandang terhadap sesuatu berdasarkan pada pendekatan-pendekatan mythos. Seiring dengan perkembangan filsafat, maka pada abad 6 orang sudah mulai mencari jawaban rasional yang diajukan oleh alam semesta dengan akal budi dan rasio yang mengantikan mythos. Bangsa Yunani juga tidak lagi dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima begitu saja), melainkan menumbuhkan sikap an inquiring attitude (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis). Sikap belakangan inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern dan memunculkan filsuf pemikir-pemikir dunia yang terkenal sepanjang masa seprti Thales, Phytagoras, Socrates, Plato, hingga Aristoteles.
Perkembangan ilmu pengetahuan penuh dengan pertentangan sesuai pada jaman masing-masing dan memunculkan 2 kelompok besar dengan para filsuf yang terkenal pada jamannya. Kelompok pertama dimulai dari Plato yang merupakan murid Socrates mengatakan bahwa realitas dan dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita dan terkenal dengan aliran rasionisme. Pendapat tersebut ditentang oleh Aristoteles yang merupakan pemikir dari kelompok kedua yang mengkritik  dengan mengatakan bahwa yang ada itu adalah manusia-manusia yang konkret. “Ide manusia” tidak terdapat dalam kenyataan sehingga muncul aliran realisme, dan sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan besar sekali. Contoh dari pemikiran kedua filsuf tersebut bagi manusia untuk dapat menyikapi dan memahami adalah bahwa menurut aliran rasioisme A sama dengan A atau 2 + 2 = 4, namun menurut aliran realisme tidak demikian A tidaklah sama dengan A  atau 2 + 2 ≠ 4. Matematika benar kalau masih ada dalam pemikiran dan akan salah kalau sudah di alam nyata.
Kembali lagi pada pemikiran para filsuf bahwa kedua kelompok besar para pemikir terus mengalami perkembangan dengan penganut dan pewarisnya masing-masing. Penerus kelompok rasio, memunculkan juga aliran formalism yang memandang bahwa untuk mengerti sesuatu harus logis dan mengunakan rasio. Sesuatu bersifat konsisten, berupa konsep, analitik, bersifat koheren untuk mencapai kebenarannya. Pada kelompok ini salah satu pemikir besar yang muncul salah satunya adalah R. Decrates. Sedangkan kelompok lainnya mengatakan bahwa untuk mengerti sesuatu dasarnya adalah empiris, pengalaman dan contoh sehingga muncul aliran intuisme. Untuk mencapai kebenaran adalah dengan memakai korespondensi apakah sesuatu itu cocok atau tidak dg pengalaman seseorang, mengerti setelah dikerjakan. Fisuf yang terkenal pada kelompok ini salah satunya adalah David Hume dengan aliran empirisme.
Pendidikan dari pemikiran Plato, yang perlu dikembangkan adalah pada objek rasio saja. Hal ini merupakan unsur penting untuk mendapatkan ilmu. Sedangkan David Hume berpikiran bahwa empiris adalah cara untuk mendapatkan ilmu. Keduanya  merupakan unsur penting untuk memdapatkan ilmu, namun tidak lengkap menjadi ilmu kalau mengarah satu aliran saja. Pada pendidikan di negara tercinta ini, sungguh akan membahayakan dan mengacaukan bila pendidikan hanya bersifat saintifik saja yang hanya mementingkan rasio sebagai objeknya dan formalitas atau hanya yang mengedepankan empiris saja sebagai obyeknya. Pendidikan pada dasarnya mengembangkan potensi-potensi manusiawi baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal serta bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan, organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Pendidikan haruslah dikelolah oleh orang-orang yang paham tentang pendidikan dan bagaimana antara teoritis dan kenyataan yang ada. Dengan demikian pendidikan sebagai cara untuk mendapatkan ilmu harus perpaduan kombinasi perkawinan dari kedua kelompok aliran tersebut. Sebenar-benarnya ilmu diambil dari keduanya yaitu mengambil sitentiknya dan apriorinya.

Bersambung…..


*) Hasil dari Refleksi Matakuliah Filsafat Pendidikan 23-10-2018

0 komentar:

Posting Komentar