Minggu, 11 November 2018

Belajar Filsafat 4


BELAJAR FILSAFAT 4

Oleh : Samsul Arifin/18701261007



PEMIKIRAN PARA FILSUF

DALAM MEMBANGUN DUNIA *)





Seperti pada tulisan sebelumnya, seiring perkembangan pemikiran kefilsafatan oleh para filsuf  yang muncul dan berkembang sesuai pada jamannya telah mempegaruhi bagimana ilmu pengetahuan itu diperoleh. Selanjutnya pada tulisan kali ini akan disampaikan pandangan para filsuf dalam membangun dunia. Dalam membangun dunia dari mulai jaman primitif, jaman batu, tradisional, modern, postmo,  konteporer dan sampai pada jamannya power now saat ini selalu di lalui adanya pertentangan-pertentangan dan saling mempertahankan pemikirannya masing-masing.

Dua kelompok filsuf, mereka ibarat makhluk yang hidup di langit dan bumi selalu mempertahankan pendapat masing-masing. Dari kelompok langit muncul aliran rasinalisme, nominalis, idealis dan banyak lagi. Sementara dari kelompok yang lain muncul aliran realistis, determine, materialistis yang menentang pemikiran dari kelompok sebelumnya. Pertentangan-pertentangan pemikiran itu berkembang sejalan dengan jamannya dan menjadi aliran sejenis yang baru yang lazim kita sebut “Neo”.

Akibat pertentangan itu, munculah tokoh filsuf yang berdiri ditengah-tengah diantara dunia langit dan bumi. Pada kelompok penengah munculah para filsuf yang diantara adalah Al Ghazali, Socrates dan Imauel Kant.  Socrates dalam pemikiran mengemukakan pertanyaan dialegtis, dimana klau seseorang yang berilmu tidak mampu menjelaskan keilmuannya, maka ia akan tersisih. Sedangkan Kant membangun dunia dengan sintetik apriorinya yaitu menggabungkan dan menyeimbang kan aliran dan pemikiran para filsuf yang ada di langit dan bumi untuk membangun dunia. Muncul juga pemikiran filsuf dikelompok tengah yaitu Maviaveli yang berpikiran bahwa untuk  membangun dan menguasai dunia dapat dilakukan dengan segala cara. Pemikiran Maviaveli inilah kemudian banyak diadopsi oleh banyak politikus dalam mendapatkan kekuasaan di dunia ini.

Indonesia sebagai salah satu negara yang hidup diantara negara-negara lain, menganut paham monodualisme dengan dasar negara Pancasila yang menempatkan kehidupan ini sebagai hubungan antara mahluk dengan sang pencipta (Habluminallah) dan hubungan  manusia dengan sesamanya (Habluminanas) untuk mendapat kesimbangan dunia akhirat.  Struktur pancasila sudah ada sejak Indonesia berdiri dan berada ditengah-tengah dunia, mengalir dari jaman batu sampai dengan tradisonal, modern, posmo, kontemporer, dan power now.   Pada jaman power now seperti saat ini, isu global world menjadikan dunia satu yang telah digagas oleh dunia barat khususnya Amerika sudah mulai bergeser kearah flat world dengan merubah pemikiran dunia satu menjadi dunia Amerika “America First” melalui Trump sebagai pencetusnya. Semua paradigma yang ada sebelumnya dibalik disesuaikan dengan pemikiran flat world.  Semua hal yang absolut menjadi direlatifkan.  Neo deskontruksi muncul, dimana yang berkuasa adalah yang punya modal (capital) sehingga dalam kehidupan bernegara tidak lagi mengenal negara sahabat dan sebagainya. Siapa yang kuat itulah yang berkuasa. Semua itu terjadi karena “Ego Power” yang dimiliki oleh negara penguasa, melebihi negara lain.



Bersambung…..



*) Hasil dari Refleksi Matakuliah Filsafat Pendidikan 30-10-2018

Minggu, 04 November 2018

Belajar Filsafat 3


BELAJAR FILSAFAT 3
Oleh : Samsul Arifin/18701261007

PEMIKIRAN PARA FILSUF
TENTANG ILMU PENGETAHUAN *)


Sejarah perkembangan filsafat berkembang atas dasar pemikiran kefilsafatan oleh para filsuf  yang telah dibangun sejak abad ke-6 SM.  Pemikiran para filsuf muncul dan berkembang sesuai pada jaman masing-masing. Pemikiran para filsuf tidaklah semua sejalan, namun penuh dengan pertentangan-pertentangan dan saling mempertahankan pemikirannya sehinga memunculkan aliran-aliran dengan penganut-penganutnya. Secara periodisasi perkembangan filsafat (filsafat barat), pembagiannya dimulai dari zaman kuno, zaman abad pertengahan, zaman modern, dan masa kini. Sedang aliran yang muncul dan berpengaruh terhadap pemikiran filsafat adalah Positivisme, Marxisme, Eksistensialisme, Fenomenologi, Pragmatisme, dan Neo­Kantianianisme dan Neo-tomisme. Hali ini menyadarkan kita semua bahwa perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidaklah berlangsung secara mendadak, melainkan terjadi secara bertahap, evolutif. Karena untuk memahami sejarah perkembangan ilmu mau tidak mau harus melakukan pembagian atau klasifikasi secara periodik, karena setiap periode menampilkan ciri khas tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan pemikiran secara teoretis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani. Periodisasi perkembangan ilmu dimulai dari peradaban Yunani dan diakhiri pada zaman kontemporer.
Pada awalnya orang (di Yunani) memandang terhadap sesuatu berdasarkan pada pendekatan-pendekatan mythos. Seiring dengan perkembangan filsafat, maka pada abad 6 orang sudah mulai mencari jawaban rasional yang diajukan oleh alam semesta dengan akal budi dan rasio yang mengantikan mythos. Bangsa Yunani juga tidak lagi dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima begitu saja), melainkan menumbuhkan sikap an inquiring attitude (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis). Sikap belakangan inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern dan memunculkan filsuf pemikir-pemikir dunia yang terkenal sepanjang masa seprti Thales, Phytagoras, Socrates, Plato, hingga Aristoteles.
Perkembangan ilmu pengetahuan penuh dengan pertentangan sesuai pada jaman masing-masing dan memunculkan 2 kelompok besar dengan para filsuf yang terkenal pada jamannya. Kelompok pertama dimulai dari Plato yang merupakan murid Socrates mengatakan bahwa realitas dan dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita dan terkenal dengan aliran rasionisme. Pendapat tersebut ditentang oleh Aristoteles yang merupakan pemikir dari kelompok kedua yang mengkritik  dengan mengatakan bahwa yang ada itu adalah manusia-manusia yang konkret. “Ide manusia” tidak terdapat dalam kenyataan sehingga muncul aliran realisme, dan sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan besar sekali. Contoh dari pemikiran kedua filsuf tersebut bagi manusia untuk dapat menyikapi dan memahami adalah bahwa menurut aliran rasioisme A sama dengan A atau 2 + 2 = 4, namun menurut aliran realisme tidak demikian A tidaklah sama dengan A  atau 2 + 2 ≠ 4. Matematika benar kalau masih ada dalam pemikiran dan akan salah kalau sudah di alam nyata.
Kembali lagi pada pemikiran para filsuf bahwa kedua kelompok besar para pemikir terus mengalami perkembangan dengan penganut dan pewarisnya masing-masing. Penerus kelompok rasio, memunculkan juga aliran formalism yang memandang bahwa untuk mengerti sesuatu harus logis dan mengunakan rasio. Sesuatu bersifat konsisten, berupa konsep, analitik, bersifat koheren untuk mencapai kebenarannya. Pada kelompok ini salah satu pemikir besar yang muncul salah satunya adalah R. Decrates. Sedangkan kelompok lainnya mengatakan bahwa untuk mengerti sesuatu dasarnya adalah empiris, pengalaman dan contoh sehingga muncul aliran intuisme. Untuk mencapai kebenaran adalah dengan memakai korespondensi apakah sesuatu itu cocok atau tidak dg pengalaman seseorang, mengerti setelah dikerjakan. Fisuf yang terkenal pada kelompok ini salah satunya adalah David Hume dengan aliran empirisme.
Pendidikan dari pemikiran Plato, yang perlu dikembangkan adalah pada objek rasio saja. Hal ini merupakan unsur penting untuk mendapatkan ilmu. Sedangkan David Hume berpikiran bahwa empiris adalah cara untuk mendapatkan ilmu. Keduanya  merupakan unsur penting untuk memdapatkan ilmu, namun tidak lengkap menjadi ilmu kalau mengarah satu aliran saja. Pada pendidikan di negara tercinta ini, sungguh akan membahayakan dan mengacaukan bila pendidikan hanya bersifat saintifik saja yang hanya mementingkan rasio sebagai objeknya dan formalitas atau hanya yang mengedepankan empiris saja sebagai obyeknya. Pendidikan pada dasarnya mengembangkan potensi-potensi manusiawi baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal serta bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan, organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Pendidikan haruslah dikelolah oleh orang-orang yang paham tentang pendidikan dan bagaimana antara teoritis dan kenyataan yang ada. Dengan demikian pendidikan sebagai cara untuk mendapatkan ilmu harus perpaduan kombinasi perkawinan dari kedua kelompok aliran tersebut. Sebenar-benarnya ilmu diambil dari keduanya yaitu mengambil sitentiknya dan apriorinya.

Bersambung…..


*) Hasil dari Refleksi Matakuliah Filsafat Pendidikan 23-10-2018